buy levitra online

Monthly Archives: January 2012

Sedikit Cerita Tentang Senat

senat_logo

Rabu, (28/12/11) lalu, OMUBe berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan ketua Senat Mahasiswa UB, Yudha Mustafa Putra. Di kesempatan itu dengan senang hati Yudha selaku ketua senat berbicara panjang lebar dengan kami. Perbincangan kami mengenai Senat Mahasiswa Universitas Bakrie.

Diawali dengan penjelasan tentang Senat itu apa, Yudha memaparkan “mengacu pada ADRT bahwa senat itu merupakan badan legislatif kampus yang juga merupakan perwakilan angkatan dari keluarga mahasiswa UB”. Melihat dari pengertian senat, maka bisa dilihat anggota-anggotanya merupakan perwakilan dari tiap UKMa dan ketua angkatan tiap prodi, yang nantinya diharapkan mereka dapat menyampaikan aspirasi dari golongan mereka masing-masing.

Pada awal berdirinya, bukanlah senat nama mereka melainkan “Badan Perwakilan Keluarga Mahasiswa” yang mana ketika itu UB masih bernama BSM. Ketua pertama BPKM (Badan Perwakilan Keluarga Mahasiswa) adalah mahasiswa UB bernama Anang Pratama yang kemudian dilanjutkan oleh Syaiful Ulum dan pada periode ini dijabat oleh mahasiswa manajemen 2008, Yudha M. P.

Yudha menuturkan bahwa Senat memang tidak memiliki acara dan memang tidak akan ada acara namun senat tentu memiliki program. Untuk program yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini adalah membuat dan menyiapkan Prahimpunan, dimana nantinya jurusan baru akan dibimbing oleh senat sebelum diadakan pemilihan dan membentuk himpunan untuk jurusan mereka. Pemilihan umum untuk BEM dan Himpunan pun merupakan program kerja Senat.

Tentu banyak aspirasi yang telah didengar Senat, dan ketika kami tanya aspirasi apa saja yang masuk ke Senat, Yudha menjawab “untuk saat ini, mengenai kesulitan dana untuk UKMa-UKMa”.

Pesan terakhir Yudha untuk Keluarga Mahasiswa Universitas Bakrie, “saya berharap agar Universitas Bakrie tetap jaya dan keluarga mahasiswa Universitas Bakrie bisa saling terintegrasi untuk mencegah terjadinya konflik”. (aris/itop)

Wujud Dukungan Kasih Antar Sesama Umat Beragama dalam Perayaan Natal di Indonesia

Dalam perayaan hari raya besar agama, biasanya selalu dihiasi dengan berbagai kegiatan yang khidmat , suci, bahagia dan meriah. Pada setiap pelaksanaannya, pihak yang sedang merayakan hari rayanya mengharapkan akan terciptanya suatu keadaan aman dan tenteram, sehingga mereka dapat dengan khidmat dan sungguh-sungguh dalam merayakannya. Karena itu, perlu adanya sifat dan sikap toleransi, saling menghargai dan saling menghormati antar sesama umat beragama.

Pada beberapa waktu yang lalu, umat Kristiani di seluruh dunia pun telah merayakan hari rayanya, yakni perayaan Natal. Perayaan yang jatuh pada tanggal 25 Desember ini setiap tahunnya tentu menyedot perhatian yang besar, bahkan sebelum masuk ke hari Natal itu sendiri. Natal sendiri dirayakan untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus atau Nabi Isa, yang setiap tahunnya menjadi sebuah perayaan yang meriah dan luar biasa di seluruh dunia.

Seperti yang telah diceritakan di awal, bahwa perayaan Natal pun juga dirayakan oleh umat Kristiani di Indonesia. Perayaan ini setiap tahunnya menjadi kegiatan khusus, mengingat Natal sendiri adalah hari raya umat Kristen yang terbesar, selain perayaan Paskah. Pada hari Natal ini, umat Kristiani, baik Katolik maupun Prostestan pun memenuhi gereja-gereja di seluruh Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Juruselamat mereka. Berbagai kebaktian, ibadah maupun perayaan Natal berlangsung di seluruh penjuru gereja di Indonesia, dan tentunya umat Kristiani larut akan sukacita dan bahagia.

Sukacita umat Kristiani itu sendiri menjadi sangat berarti besar dan menjadi semacam motivasi yang tinggi bagi setiap umat beragama di Indonesia, agar tercipta suatu kerukunan antar sesama umat beragama yang indah dan harmonis, yang dimana tercermin dalam sebuah perayaan Natal yang aman, tenteram dan kondusif di Indonesia. Tentunya, bentuk nyata dari wujud dukungan kasih antar sesama umat beragama ini tercemin dalam bantuan pengamanan gereja yang tidak hanya dilakukan oleh pihak berwenang, yakni Kepolisian RI, namun juga dari berbagai perkumpulan dari lintas agama.

Sebagai contoh, pada perayaan Natal di Karawang, ratusan anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ikut membantu aparat kepolisian dalam mengamankan perayaan Natal di 31 gereja dan 17 tempat ibadah lainnya yang tersebar di sejumlah daerah sekitar Karawang. Ada pula bantuan dari sejumlah pemuka agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Sawah Besar yang ikut bergabung bersama kepolisian yang bertugas mengamankan misa malam Natal di Gereja Katedral.

Contoh di atas mungkin hanya bentuk kecil dari berbagai bentuk nyata sebuah toleransi akan kerukunan umat beragama di Indonesia, terutama pada setiap perayaan hari raya besar suatu agama. Sebagai negara yang plural, dan terdiri dari beragam suku dan agama yang dirangkum dalam Bhineka Tunggal Ika, maka adanya sebuah bentuk toleransi antar sesama umat beragama tersebut menjadi penting dan sangat berarti, agar bangsa dan rakyat Indonesia yang dikenal memiliki keramahan yang telah mendunia dan keragaman yang begitu besar, menjadi semakin harmonis dan saling mengasihi di dalam satu kerukunan antar sesama umat beragama. (wira/azza)