buy levitra online

Monthly Archives: March 2013

Ngobrolin Ide Volume 3: Sinergi Water Resources dan Motion Picture

Suasana Pada Salah Satu Table Diskusi di Ngobrolin Ide Vol.3

Jakarta, 30 Maret 2013 – Ngobrolin Ide Volume 3, sebuah acara diskusi publik yang digagas oleh Sinergi Muda diselenggarakan pada pukul 13.00 – 18.00 wib di Kedai Lentera, Pasar Minggu, Jakarta. Acara yang mengusung tema “Water Resources & Motion Picture” ini menjadi pengingat Hari Air Internasional (22 Maret) dan Hari Perfilman Nasional (30 Maret).

Grand Final Queesscomp Computing and Programming with Logic and Creativity (Compiler 2013)

Juara 1 Queesscomp Compiler 2013 dari SMA 2 Bogor

Jakarta – Minggu (31/03) pukul 09.30 WIB, ruang 1&2 Universitas Bakrie sudah dipadati oleh siswa-siswi SMA/SMK se-Jabodetabek. Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMTIF) Universitas Bakrie, menggelar acara Compiler di hari kedua yang merupakan puncak final dari babak penyisihan Queesscomp (Quick, Guess, Competition) pada Sabtu, 30 Maret 2013.

Teknologi Berbasis Augmented Reality: Trend Baru Dunia Technopreneur

Antusiasme Peserta dalam Menyimak Materi yang disampaikan Narasumber di Workshop “Introduction to Create Augmented Reality Apps”

Jakarta – Sabtu (30/03) Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMTIF) Universitas Bakrie menggelar acara Compiler (Computing and Programming Competition with Logic and Creativity) dengan tema “Augmented Reality to Reach Your Technopreneur Dream” yang disambut dengan antusiasme dari para peserta.

Hari Film Nasional, Menilik Kembali Perfilman Tanah Air

Hari Film Nasional

Hari Film Nasional yang jatuh tiap tanggal 30 Maret menjadi hari yang tepat bagi kita untuk kembali menoleh kebelakang dan menelusuri kembali jejak perkembangan film tanah air. Film sebagai salah satu media massa menjadi sajian yang selalu menarik untuk dinikmati. Film bisa menjadi motivator, pengungkap sejarah, maupun sumber informasi lebih dari sekedar fungsi hiburan. Namun tentu saja, tidak semua film bisa menjadi sumber inspirasi mendidik yang menjadikannya layak untuk dikonsumsi. Terutama film Indonesia yang sepertinya terlalu lesu untuk mengembangkan diri.