buy levitra online

Reinkarnasi

You see, to someone, somewhere, oh yeah …
Alma matters
In mind, body and soul
In part, and in whole

“Jangan mengernyitkan dahi. Coba nikmati saja lagunya. Toh hidup di dunia memang sudah jadi masalah sejak manusia pertama menginjakkan kakinya di bumi,” ujarmu. “Bahkan Ia hidup di bumi karena tertimpa masalah di surga,” kamu menambahkan lagi.

Jalanan kota saat malam adalah kesepian yang akut. Tapi tak pernah benar-benar mati di tiap sudut. Kadang kita hanya berusaha mencerna siapa yang bisa bertahan untuk tidak terlena, pasti kemudian akan bahagia. Seperti petunjuk narasi bagaimana menjalani hidup yang diajarkan sejak belia: Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Berapa lama harus sakit? Kapan senang datang? dan Mengapa harus sakit dulu?

Mungkin akan tetap menjadi akar keraguan ketika hidup semakin menua. Manusia mana yang akan lebih memilih menderita dahulu jika bahagia bisa Ia raih seketika? Namun, apakah memang yang hidup bahagia seketika itu ada?

“Hidup itu mudah. Ambil keputusan dan jangan pernah menyesalinya,” kamu bertutur sambil tersenyum. Dan di sebelahmu aku tersenyum ikut. Malam kota ini masih meriah mengiringi langkah kaki. Ada banyak hal yang memang selalu bisa didapat dari kota ini saat malam, yang lenyap saat siang. Ketenangan, hiburan ala metropolitan, kesejukan, hingga lampu warna-warni melankolis. Satu yang tidak pernah berubah adalah kita masih saja bisa melihat potret orang-orang yang terlindas kerasnya hidup di kota ini. Di pinggir jalan. Siang atau malam.

Because to someone, somewhere, oh yeah …
Alma matters
In mind, body and soul
In part, and in whole

Kamu menyanyikan lagi lagu itu sepanjang perjalanan. Kamu, 18 tahun, perempuan, dan tidak kesepian.

***

Kini di depanku adalah kamu yang berbeda. Perempuan, 22 tahun, yang selalu mengeluh hidupnya berantakan.

“Hidup itu tidak mudah. Terkadang banyak yang memberatkan hati untuk mengambil keputusan. Bahkan kebanyakan berujung penyesalan,” ujarmu. Semua hal tentangmu yang sekarang adalah kontradiksi dari dirimu 4 tahun lalu.Putus asa, mengeluh, dan menyedihkan.

“Apa yang ada di pikiranmu pertama kali saat melihatku di pinggir jalan ini? bersama wanita-wanita yang melelang dirinya di tiap malam kota ini?”

Belum aku menjawab, kau memotong lagi, “Ah pasti kau tidak percaya. Orang yang dulu selalu menasihatimu tentang hidup berakhir seperti ini,” kamu tersenyum.

So the choice I have made
May seem strange to you
But who asked you, anyway ?
It’s my life to wreck
My own way 

Barisan lirik lagu itu keluar mengalir dari mulutmu. Masih lagu yang sama, yang sepertinya telah menjadi petunjuk pilihan hidupmu.

“Lagu itu magis.. Kita diminta untuk jadi egois tapi tetap berusaha terlihat menyenangkan dan manis,” kamu bertutur. Hanya saja kita sama-sama tahu bahwa hidup jarang sekali terasa manis.

“Sejak 2 tahun lalu semuanya berubah. Berantakan..” ucapmu lirih. Tapi tetap saja tidak sekalipun terlihat tangis yang perih dari mata itu. Mata yang masih berbinar. Merasa kuat, egois, dan manis. Di sisi lainmu yang telah menjadi utuh kini, sosokmu di dalam tubuh itu masih sangat ku kenal.

***

“So the life I have made
May seem wrong to you…

Ah, lagi-lagi aku mengawali kata-kataku dengan kalimat lagu itu. Kalau kau bosan, coret saja bagian itu. Tapi tolong lanjutkan ke kalimat berikutnya. Karena kalimat berikutnya adalah alasan aku bercerita di sini.

Kalimat yang menyuruhmu untuk melupakan ucapanku selama ini. Jangan dengarkan sedikitpun ocehan omong kosongku tentang hidup. Lupakan saja. Toh tampaknya semua benar-benar salah.

Salah…

Jika dipikir-pikir salah atau benar, mungkin kita hanya akan berujung pada perdebatan panjang khas orang tua pensiunan. Yang merasa hidupnya paling berpengalaman dan anak muda 20 tahunan hanyalan bocah ingusan. Padahal apa yang dialami bocah ingusan di zaman ini sudah tentu berbeda dengan apa yang dialami mereka saat masih menjadi bocah ingusan, kan?

Jangan terlalu banyak mendengarkan orang lain. Dan lebih dari itu… Jangan terlalu banyak memberi nasehat pada orang lain karena kita adalah tubuh yang berbeda dengan hidup yang tak sama. Setiap orang punya hidupnya sendiri yang tidak untuk dimengerti orang lain. Cukuplah kau berjalan lurus sendiri. Jangan dengarkan kata-kataku.

Sekarang aku akan menjemput kelahiranku yang baru. Menghapus semua beban yang terlanjur memeluk dan membuat takluk. Aku akan menjadi diri yang baru dan tak banyak tahu. Mengulang tiap rentetan waktu tanpa banyak mengeluh dan menjadi putih tanpa keruh.

Semoga Tuhan yang menakdirkan kita perpisahan, akan menghadiahi kita pertemuan berikutnya. Jika aku terlahir kembali dan tidak mengenalmu, maka carilah aku. Jika kita bertemu lagi, kau tentu tahu bagaimana membuatku mengingatmu lagi.”

Kata-kata itu tersusun dalam sebuah kertas di samping tubuhmu. Kertas putih yang memerah menyerap darahmu. Darah dari kepalamu. Yang berakhir diujung pelatuk putus asa hidupmu.

***

“Hei ! Hei !”

Aku berlari mengejar sambil terengah-engah. Sesosok anak perempuan kecil menoleh ke arahku. Aku menghampirinya, mengeluarkan handphone, dan memutarkannya sebuah lagu.

“Kamu tahu lagu ini?” aku bertanya sambil menatap matanya yang bening. Wajahnya polos belum tersentuh beban. Ekspresinya lugu dan lucu seperti orang tak banyak tahu. Ia lalu menggeleng pelan sambil berkata sedikit takut.

“Ngga tahu, om..”

Lalu pergi berlari menjauh..

You see to someone, somewhere, oh yeah …
Alma matters
In mind, body and soul
In part, and in whole
Because to someone, somewhere, oh yeah …
Alma matters
In mind, body and soul
In part, and in whole

Kamu, perempuan kecil berusia 8 tahun, terlahir baru.

 

(zaldy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>