buy levitra online

Teater Pikir Tentang Media “Sesepuh” Yang Klasik

Gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta Pusat.

Gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta Pusat. (kompas.com)

 

Ketika keklasikan fisik bukanlah halangan untuk mewujudkan kreatifitas dan nilai-nilai nasionalisme. Media ini hadir dengan kekuatannya dalam penyampaian suara dan nada-nada ritmik membentuk teater pikiran.
Jakarta siang itu, langit kelabu ditambahi kepulan asap dari pembuangan roda-roda bermotor yang menderu. Siang itu, saat matahari tepat ditengah langit biru, rombongan Mahasiswa Peminatan Jurnalistik, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Bakrie berangkat dari kampus dengan perasaan yang juga sedang membiru.Ya, perasaan mereka membiru, galau pilu oleh ujian tengah semester (UTS) mata kuliah Statistik Sosial yang menyita pikiran, membuat otak mereka kelu. Berangkat dengan perasaan seperti itu, mengharap dapatkan sekadar kesenangan yang bisa mengobati di tempat yang akan di tuju. Siang itu, mereka menuju sebuah stasiun radio tertua di negeri ini, bahkan bisa dibilang media elektronik tertua, Radio Republik Indonesia atau RRI.

Berangkat dari kawasan kampus Universitas Bakrie di Kuningan menuju Jalan Medan Merdeka, tempat RRI berada. Hanya perlu waktu kurang dari setengah jam untuk sampai di sana, karena untungnya jalan yang ditempuh sedang tidak bersahabat, sedang tidak ingin kami berlama-lama melewatinya. Terpampang dari kejauhan, gedung berwarna dominan biru, bernuansa tua nan klasik, dengan tulisan besar menempel di dinding atasnya berbunyi RRI. Ya, kami sudah sampai di RRI Jakarta.

Saat memasuki gedung tersebut, yang terasa pertama adalah nilai klasiknya. Tersirat berjuta nilai historis yang sudah dilahirkan oleh media “sesepuh” ini. Media yang pertama ada di Indonesia, yang menjadi saksi hidup diproklamasikannya kemerdekaan bangsa tercinta. Walau dalam perjalanannya sempat di salah gunakan oleh penguasa orde baru, namun tetap dapat menjunjung tinggi tujuan awalnya sebagai media yang independen, media elektronik berupa radio yang kini menjadi radio publik dengan segmentasi penyiaran yang variatif nan imajinatif.

Pikiran semakin terbawa oleh suasana klasik tempat itu. Seakan menghisap pikiran dalam pertunjukan teater yang mempertontonkan kisah klasik tentang RRI ini. Kami diajak berkeliling gedung itu, berjalan-jalan dalam estetika klasik yang terpampang jelas pada mata telanjang. Keklasikan itu memang tidak bisa lepas dari media yang ternyata memiliki lebih dari 70 cabang di Indonesia, dari kota besar hingga mencakup rawannya area perbatasan, bahkan telah memiliki hubungan penyiaran di beberapa kota di negara-negara besar di antaranya Hongkong, Jeddah, Tokyo, dan lain-lain.

Sebuah nilai lain yang tergambar dari suasana dalam gedung tersebut adalah kekuatan dalam menjunjung tinggi rasa nasionalisme. RRI terdata telah mengajarkan nilai-nilai nasionalisme kepada seluruh pendengarnya, khususnya di daerah perbatasan. Selain mengajarkan nilai nasionalisme tersebut, RRI juga menjunjung nilai kepedulian terhadap tanggung jawab sosial dengan mengadakan kegiatan seperti gerak jalan nasional, program penghijauan dan lain-lain. Terlalu banyak yang bisa digambarkan dari RRI. Satu yang pasti dari perjalanan ke RRI, banyak hal yang bisa digali. Satu yang paling menancap dalam hati, RRI mungkin memiliki pandang fisik yang tua nan klasik, namun semua yang telah dia perbuat untuk bangsa ini terlalu naif jika hanya digambarkan dengan satu kata, klasik, itu.

Pertunjukan teater dalam pikiran tadi sayang sekali harus terhenti oleh dentingan batas waktu yang tersedia dan diberi. Rombongan kami beranjak dari RRI, untuk kembali ke kampus Universitas Bakrie. RRI memberikan banyak pelajaran, tentang bagaimana membangun suatu kepercayaan dari orang lain, mempertahankan identitas, dan menjunjung tinggi nilai sosial serta nasionalisme. Maju terus “sesepuh” media di Indonesia, RRI. (YAN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>