buy levitra online

Perayaan Imlek Pasca 15 Tahun Reformasi

Minggu, 10 Februari 2013 menjadi hari yang dinantikan oleh masyarakat Tionghoa di segala penjuru dunia. Ya, tepat di hari minggu di bulan Februari ini seluruh masyarakat Tionghoa merayakan tahun baru Cina atau sering disebut tahun baru Imlek. Di Indonesia, perayaan Imlek dimeriahkan oleh atraksi kembang api, barongsai, dan juga makanan-makanan khas negeri tirai bambu. Selain itu, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia pun sembahyang di kelenteng-kelenteng untuk memanjatkan keinginan mereka di tahun ular air ini. Namun jika kita sedikit flashback ke era pada zaman orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto, terdapat kebijakan-kebijakan yang sangat mengekang kebebasan masyarakat Tionghoa dan tampak bertolak belakang dengan kemeriahan perayaan imlek pasca reformasi.Pada masa Orde Baru, warga keturunan Tionghoa dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, pemakaian Bahasa Mandarin, bahkan agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah. Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh komunisme di Tanah Air. Terjadi perselisihan antara warga pribumi asli dengan warga keturunan khususnya Tionghoa.

Puncak perselisihan itu adalah tragedi yang menjadi catatan sangat kelam dalam sejarah Indonesia yaitu kerusuhan Mei 1998. Pada saat itu terjadi pergolakan antara mahasiswa dengan aparat dibawah pemerintahan Presiden Soeharto. Ternyata ada kejadian dibalik kerusuhan tersebut yang juga sangat memilukan terutama bagi warga Tionghoa yang ada di Indonesia. Nyatanya tragedi tersebut juga membawa masalah SARA didalamnya. Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan milik warga Indonesia keturunan Tionghoa yang dihancurkan oleh amuk massa. Ratusan wanita keturunan Tionghoa juga menanggung pilu karena mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Kemarahan massa akibat penembakan mahasiswa Universitas Trisakti yang dikembangkan oleh kelompok politik tertentu menjadi kerusuhan anti Cina. Peristiwa ini merupakan persitiwa anti Cina paling besar sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Dilihat dari sisi manapun, masyarakat Tionghoa sama dengan masyarakat asli Indonesia. Mereka juga ingin mencari kehidupan yang layak di tanah air ini. Mereka juga ingin mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, sama seperti warga asli Indonesia lainnya. Bahkan tidak sedikit warga Indonesia keturunan Tionghoa yang ikut berperan dalam kemajuan bangsa ini. Tentu kita masih ingat dengan pasangan ratu dan raja bulu tangkis Indonesia yaitu Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti. Mereka mengharumkan nama Indonesia pada perlehatan olimpiade di Barcelona 1992 dengan menyumbang emas paling banyak pada cabang olahraga bulu tangkis dan mereka adalah warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Jadi, apakah kita masih harus membedakan warga asli Indonesia dengan warga keturunan Tionghoa?

Memang tepat bila perayaan tahun baru Imlek tahun ini dianggap juga sebagai perayaan kebebasan bagi warga Tionghoa yang berada di Indonesia karena tepat 15 tahun yang lalu mereka berjuang untuk tetap mendapat pengakuan dan hak yang sama di negeri ini. Semoga kebebasan dan kesetaraan ini akan terus ada selamanya, dan menciptakan keselarasan hidup antar manusia yang sesuai dengan cita-cita Bhinneka Tunggal Ika. (Sinyo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>