buy levitra online

Hari Film Nasional, Menilik Kembali Perfilman Tanah Air

Hari Film Nasional

Hari Film Nasional yang jatuh tiap tanggal 30 Maret menjadi hari yang tepat bagi kita untuk kembali menoleh kebelakang dan menelusuri kembali jejak perkembangan film tanah air. Film sebagai salah satu media massa menjadi sajian yang selalu menarik untuk dinikmati. Film bisa menjadi motivator, pengungkap sejarah, maupun sumber informasi lebih dari sekedar fungsi hiburan. Namun tentu saja, tidak semua film bisa menjadi sumber inspirasi mendidik yang menjadikannya layak untuk dikonsumsi. Terutama film Indonesia yang sepertinya terlalu lesu untuk mengembangkan diri.

Dunia perfilman Indonesia selalu berfluktuasi bagaikan roller coaster. Kualitas film Indonesia beberapa waktu yang lalu bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Entah pangsa pasar yang menentukan atau memang kreatifitas produser, film-film yang bermunculan nampak mempunyai tema yang seiring, yaitu horor berbau pornografi. Tidak hanya horor—walaupun umumnya demikian—unsur pornografi hampir selalu diselipkan dalam setiap film yang diproduksi. Meski sebelum ditayangkan di bioskop film harus melewati proses sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF) terlebih dahulu, namun seringkali selalu ada adegan panas yang lolos sensor. Mungkin film yang dimaksud adalah film dalam kategori dewasa, tapi apakah hal ini bisa menjamin bahwa anak-anak dan remaja tidak masuk ke dalam bioskop untuk menonton film tersebut? Tentu tidak. Untuk hal ini, Komisi Penyiaran Indonesia lah yang turun tangan. Jika masih ada bioskop yang menerima penonton remaja dalam kategori film dewasa, bioskop tersebut akan menerima sanksi dari KPI.

 

Birokrasi ini memang cukup kuat. Namun, pada kenyataannya realisasi akan birokrasi ini tidaklah terwujud. Alhasil, banyak anak-anak dan remaja pun menyaksikan film kategori dewasa ini. Apakah film yang berbau pornografi seperti ini mendidik? Jawabannya tentu tidak. Justru film-film ini sangat membobrokkan bangsa kita, membuat pemikiran anak-anak muda generasi penerus bangsa tidaklah realistis dan berpikir jauh ke depan karena yang ada di mata mereka hanyalah pornografi dan pornografi. Dampaknya pun sangat terasa, banyak remaja dan anak-anak yang merealisasikan apa yang mereka lihat dalam bentuk pornoaksi. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan.

 

Beruntunglah dalam beberapa tahun terakhir ini, film Indonesia mulai menunjukkan geliatnya kembali. Dibalik film-film yang berbau pornografi yang masih bermunculan, saat ini tayang berbagai film yang mengangkat topik-topik kreatif dan menginspirasi. Topik-topik seperti persahabatan, semangat, nasionalisme, dan kekuatan cinta menjadi topik-topik yang berhasil menarik minat penonton. Pada kenyataannya ketika salah satu produsen film mengeluarkan film yang inspiratif dan berkategori sangat baik justru menjadi trending topic dan memungkinkan sebagai acuan perfilman Indonesia dan bahkan dunia. Contohnya The Raid dan Habibie-Ainun yang berhasil membuat masyarakat terngiang akan kehebatan kualitas dan cerita film Indonesia. Kualitas film-film seperti inilah yang sangat bermutu dan harus terus dipertahankan, agar citra perfilman Indonesia tetap berjaya. Selamat Hari Film Nasional! (Sita, Dinda, Dea, Fauziah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>