buy levitra online

Manusia Hanya Membutuhkan Enam Sendok Makan Minyak Goreng

Pedagang gorengan seperti ini ramai dikunjungi orang menjelang berbuka puasa. Masyarakat gemar mengonsumsi gorengan ketika berbuka puasa.

Pedagang gorengan seperti ini ramai dikunjungi orang menjelang berbuka puasa. Masyarakat gemar mengonsumsi gorengan ketika berbuka puasa.

Makanan yang digoreng merupakan salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Di tanah air, hampir semua jenis makanan dapat disajikan dengan cara digoreng. Maka tak heran pedagang gorengan ramai terlihat di berbagai sudut kota.

Eksistensi gorengan masih mencuat terutama di bulan puasa ini. Cemilan gorengan merupakan sala satu pilihan masyarakat untuk disantap saat berbuka puasa. Pembeli memiliki alasan tersendiri mengapa mereka lebih menyukai dan memilih cemilan gorengan sebagai makanan berbuka puasa. “Ya.., gorengan murah, simple, enak dan bikin kenyang sih..”, ujar Dwi, salah satu konsumen gorengan.

Secara umum, alasan itulah yang dikemukakan oleh kebanyakan para pembeli di pasar cemilan buka puasa. Hal ini bertolak belakang dengan istilah ‘berbukalah dengan yang manis’. Istilah ini sebenarnya telah diketahui oleh pembeli, tetapi mereka tetap saja memilih gorengan sebagai pilihan utama. “Kalau buka dengan yang manis-manis, sering bikin enek sih, trus nggak bikin kenyang,” kata Eko saat dijumpai.

Sebenarnya tidak ada yang salah jika berbuka puasa dengan gorengan, tetapi sebagaimana yang telah diteliti oleh para ilmuwan dan pakar gizi, dalam satu makanan gorengan terdapat kandungan lemak jenuh yang tinggi karena menggunakan banyak minyak untuk menggorengnya. Sedangkan dalam sehari, tubuh kita hanya membutuhkan 600 kalori atau sama dengan 66 gram. Satu sendok makan minyak memiliki berat 10 gram, jadi tidak mungkin menggoreng makanan dengan enam sendok makan minyak.

Lemak menumpuk tentunya akan berbahaya untuk pembuluh darah manusia. Sekali pun itu minyak yang sehat seperti minyak kedelai dan zaitun, ketika dipanaskan dengan suhu tinggi akan berubah menjadi lemak trans. Nah, lemak trans inilah yang melukai dan merusak pembuluh darah. Kolesterol yang berlebihan di dalam darah dapat menyumbat pembuluh darah dan akan dapat menyebabkan kanker.

Selain itu, sayuran yang ada di dalam gorengan juga biasanya tidak cukup segar. Tidak hanya itu, penggunaan kertas bekas dalam bungkus gorengan, misalnya kertas koran atau kertas bertinta, maka tinta tersebut dapat berbahaya bagi tubuh dan dapat merusak syaraf, otak, darah, dan reproduksi.

Perlu diketahui, tingginya kandungan lemak trans dalam gorengan dapat menyebabkan berbagai dampak jangka pendek yaitu rasa mual, panas pada tenggorokan dan perut. Nah, hal inilah yang menjadikan alasan utama mengapa sebaiknya tidak berbuka dengan cemilan gorengan. Karena selama berpuasa tentunya akan merasa terganggu jika tenggorokan dan perut terasa kering dan panas. Ini hanya akan mengganggu puasa bagi yang melaksanakannya. Jadi, apakah Anda masih ingin untuk menjadikan cemilan gorengan sebagai menu santapan berbuka puasa hari ini?

Oleh: Syahni Tiska

Sumber lain : Tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>