buy levitra online

For You to be Inspired; Kisah Delegasi Universitas Bakrie di One Young World Summit

Delegasi Universitas Bakrie di One Young World Summit

Halo. Nama saya Alifia Firliani, saya merupakan salah seorang mahasiswi di Universitas Bakrie. Saya bukan orang terkenal. Namun, saya orang yang cukup beruntung. Saya baru saja kembali dari Johannesburg untuk mengikuti sebuah konferensi Internasional yang bernama “One Young World” dan merasa menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya. Saya ingin membagi sedikit saja pengalaman di sana serta sebuah pendapat. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan sedikit motivasi bagi para pembaca.

One Young World Summit. Apa itu?

One Young World itu sendiri merupakan organisasi non-profit yang membantu mengumpulkan para pemimpin muda dunia yang memiliki jiwa serta komitmen sosial di komunitasnya. Salah satu program tahunannya adalah One Young World Summit ini, yang telah dilakukan tiap tahun sejak tahun 2010. Summit ini memberikan kesempatan bagi para pemuda (delegasi) dari seluruh dunia yang mewakili negara, perusahaan, atau organisasi masing-masing untuk menyampaikan solusi dari berbagai permasalahan yang terjadi hari ini. Kesempatan ini juga digunakan untuk berjejaring bagi para delegasi, yang tentunya mereka merupakan pemuda-pemuda terpilih dari setiap entitas yang diwakilinya.

Tahun ini, One Young World Summit diadakan di Johannesburg, Afrika Selatan dari tanggal 2 – 5 Oktober 2013. Indonesia sendiri mengirimkan tujuh delegasi untuk mengikuti acara tersebut, yang mana ketujuh delegasi tersebut mendapatkan kesempatan setelah mengikuti proses seleksi yang ketat melalui seleksi Mahasiswa Berprestasi dan beberapa melalui seleksi Debat Nasional yang keduanya diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI).

Saya yang merupakan salah satu dari tujuh pemuda beruntung yang berangkat untuk berpartisipasi dalam summit ini. Awalnya, jujur saja, saya tidak tertarik ataupun bangga menjadi bagian dari komunitas ini. Konferensi di bayangan saya identik dengan duduk berjam-jam dan mendengarkan konten bahasan dari para pembicara yang super panjang dan terkadang tidak relevan untuk saya. Apalagi sebuah komunitas yang mengedepankan perubahan sosial. Saya tidak pernah tertarik untuk menjadi seorang aktivis. Semua pikiran-pikiran itu berlari di dalam benak saya saat itu.

Namun, di luar ekspektasi saya, upacara pembukaan yang dilaksanakan di Soccer City, stadion sepak bola yang digunakan pada FIFA World Cup 2010 benar-benar merubah seluruh persepsi dan perasaan saya terhadap summit ini. Bagaimana tidak, upacara pembuka dibuka oleh para tokoh besar yang merupakan Board of Councellor  serta pembicara dalam summit. Saya benar-benar tidak menyangka akan bertemu mereka secara langsung. Terdapat diantaranya, Kofi Annan (Mantan Sekjen PBB yang juga aktivis anti-Apartheid), Muhammad Yunus (penerima Nobel Prize untuk eksekusi MikroFinance yang berhasil mengurangi kemiskinan di Bangladesh yang juga konsepnya ditiru oleh berbagai negara berkembang di dunia sekarang), Richard Branson (penyanyi rock terkenal dan pemilik salah satu perusahaan terbesar di dunia, Virgin Group), Arianna Huffington (CEO dari media besar di Amerika Selatan, Huffington Post), Paul Polman (CEO Unilever),  dan masih banyak lagi.

Selama kegiatan berlangsung yang belangsung selama empat hari ini, saya tetap harus duduk berjam-jam mendengarkan para tokoh hebat yang telah disebutkan di atas tadi berbicara. Sesekali, mereka ditemani oleh para delegate speaker, yakni para delegasi yang sebelumnya telah mendaftarkan diri untuk berbicara pada sesi-sesi yang sesuai dengan bidang mereka. Saya mengharapkan diri saya bosan untuk konsisten mendengarkan setiap sesi. Namun, untuk pertama kalinya, saya betah mengikuti setiap sesi tanpa terkecuali dan hingga akhir.

I have never been that much inspired in my life! I have never felt a force so strong to push me to change, to be a more socially committed individual, to care for my world!

“You are never too young to take responsibility, dan in times when a leader has failed, we need to take the innitiative to lead dan we are the smartest young generation” oleh Kofi Annan

“You have so much power in you”, pendek, sederhana dan menancap di memori oleh Muhammad Yunus

“We are never fully present. Stop. Don’t multitask. Don’t listen to your earphones. Live in the moment”, sebagai nasihat utama oleh CEO cantik dan pintar, Arianna Huffington.

Para delegate speaker juga sebenarnya sungguh luar biasa, yang juga tidak kalah membuat saya merasa sangat kecil sebagai penghuni bumi ini. Mereka yang memiliki tujuan sosial yang benar-benar mereka tekuni sebagai pekerjaan utama, dan bukan hanya sebagai kegiatan tambahan dalam hidup ketika mereka telah merasa bosan dengan rutinitas korporasi. Mereka yang semuanya memulai sebagai anak muda “ingusan” yang tidak mengerti cara mengembangkan suatu gerakan, bagaimana mendapatkan sponsor, bagaimana mendapatkan tim yang tepat dan menciptakan ide bisnis yang luar biasa. Mereka, yang  hanya bergantung pada keberanian untuk membuat perubahan. Mereka yang tidak hanya menggebu-gebu di awal saja, dan untuk seterusnya tidak konsisten melanjutkannya.

Intinya, saya ingin berbagi kepada semua, bahwa kita memiliki banyak sekali potensi dalam diri yang seringkali kita sembunyikan. Karena takut, karena merasa tidak ada gunanya juga untuk digunakan karena merasa bahwa perubahan itu sulit untuk diciptakan. Kita seringkali menunggu sebuah pengakuan sebelum bergerak membuat perubahan. Alasan mengapa kita masih melihat para pemimpin yang semena-mena, kelaparan dimana-mana, pengangguran,  dan diskriminasi adalah karena kita semua saling menunggu untuk berbicara dan melakukan sesuatu. Selalu melihat ke kiri dan ke kanan, takut dengan oposisi, ragu dengan langkah yang diambil dan takut gagal.

What’s in it for me? Ngapain harus berbuat baik, menolong orang? Jawabannya adalah karena itu merupakan aktualisasi diri yang paling tinggi. Karena melayani orang dan membantu mereka untuk mendapatkan hidup yang lebih baik menjadi sumber kebahagiaan yang besar. Melihat orang lain ter-empower, mampu, dan mandiri karena peran kita, rasanya tidak ada duanya.

Jadi, bagaimana dengan saya? Saya memang bukan founder dari gerakan atau organisasi sosial mana pun, untuk saat ini. Digaris bawahi, untuk saat ini. Mungkin banyak yang mengkritisi bahwa saya tidak pantas menulis tulisan seperti ini karena saya belum terbukti mampu menciptakan sesuatu yang besar.

Tapi, saya sudah capek dengan pribadi yang dulu dan saya ingin dunia tahu itu, dan saya rasa banyak yang merasakan hidup yang sama seperti saya.  Hidup yang sekarang sekadar menjalani peran sebagai pelajar atau memenuhi tuntutan bos di tempat kerja tanpa memiliki ambisi yang lebih besar. Orang hebat, pasti mau melakukan lebih dari itu. Orang hebat tidak harus hidup dari pengakuan orang lain. Orang hebat mau mengorbankan sedikit lebih banyak waktu untuk mengerjakan apa yang penting sehingga mengorbankan waktu bermain. Orang hebat berani mengambil resiko. Orang hebat itu berani jadi beda dan tetap konsisten di tengah peer pressure yang arusnya pasti kuat. Yang terakhir, orang hebat akan menciptakan perubahan.

Saya, layaknya yang lain juga masih dalam proses belajar. Selama kamu telah terinspirasi, semua perubahan pasti bisa kamu buat. Jadi, dekatkan diri dengan orang-orang yang memiliki ambisi dan visi yang tepat. Cari role model kamu dan belajar dari mereka. Teknologi bukan lagi sebuah isu, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mampu belajar. Cari cara untuk belajar sebanyak-banyaknya. Perluaslah jaringan pertemanan karena akan benar-benar membantu dalam prosesnya. The goal is for you to be inspired.

Nasihat terakhir, ketika sudah sukses, jangan pernah lupa untuk membagi pengalaman dan cerita agar kamu dapat menginspirasi lebih banyak lagi dan memviralkan dampak yang kamu inisiasikan. Suatu hari, beberapa bulan atau tahun dari sekarang, saya berharap saya dan kamu sudah memiliki cerita yang dapat dibagikan kepada generasi muda berikutnya.
Semangat dan goodluck!

(Alifia Firliani, Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie 2010)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>