buy levitra online

Keteguhan Seorang Bocah Cilik di Kaki Gunung

Tawa riang terpancar dari wajah mungil Arju (4 ) yang dijumpai sepulang sekolah (19/11/13) dari TK Nurul Yaqien, Puncak Bogor, Jawa Barat. Tak sedikit pun raut muka kesepian dari  Bocah kecil yang harus hidup seorang diri sejak balita. Ia dititipkan oleh orang tua angkatnya di Padang untuk menuntut ilmu setahun yang lalu.

Tawa riang terpancar dari wajah mungil Arju (4 ) yang dijumpai sepulang sekolah (19/11/13) dari TK Nurul Yaqien, Puncak Bogor, Jawa Barat. Tak sedikit pun raut muka kesepian dari Bocah kecil yang harus hidup seorang diri sejak balita. Ia dititipkan oleh orang tua angkatnya di Padang untuk menuntut ilmu setahun yang lalu.

BOGOR – Sungguh malang nasib bocah mungil bernama Arju Kauloh ini. Ia lahir di Padang empat tahun lalu, dan kini ia menuntut ilmu di kota orang sebatang kara. Hidupnya yang pahit ini bermula saat Ibu angkatnya yang mandul dan memutuskan untuk mengangkat Arju sebagai anaknya. Namun, beberapa lama kemudian, akhirnya Ibu angkat Arju hamil. Karena itulah, orang tua angkatnya memutuskan untuk menitipkan Arju ke Pesantren Nurul Yaqien, Puncak, Bogor, Jawa Barat tahun lalu.

Arju kemudian diasuh oleh Ustad Supiyandi bersamaan dengan puluhan santri lainnya.Ia juga di sekolahkan oleh Ayah angkatnya di TK. Nurul Yaqien sebuah tempat meluapi kesepian hidupnya. Walaupun tidak tinggal bersama keluarga asli, di tempat asri inilah ia menaruh harapan untuk masa depannya

Sudah tiga bulan lebih Arju tak ditengok oleh keluarganya, entah alasannya apa. Hal itu menyebabkan ia sama sekali tidak mengingat wajah Ibunya. Ia pun juga tak bisa berbahasa Minang, justru ia mahir berlogat Sunda. Ketika ditanya lebih suka tinggal di mana, Arju menjawab lebih suka tinggal di pesantrennya yang sangat sederhana ini. Namun, Arju kadang-kadang terlihat menangis di malam hari entah penyebabnya apa, mungkin saja rindu atau merasa kesepian.

Hari hampir siang, kami memutuskan untuk bertemu Arju di kelasnya. Saat itu, tubuh kurus berkulit sawo matang malu-malu menatap kami dan bersalaman. Arju menggunakan seragam batik sekolahnya, celana putih yang mulai kusam, dan tak lupa dengan ikat pinggang yang terlihat longgar. Ia hanya berdiam malu tidak menyatu dengan kawan-kawnnya yang sedang bersenda gurau kesana kemari. Bahkan sempat terlihat salah seorang kawannya sedang melototi Arju ketika ia mencoba untuk bergabung.

 

 

SOSOK ARJU DI MATA GURU-GURU

Walaupun hidup sebatang kara di kota orang, tak membuat Arju segan mengekspresikan dirinya. Menurut gurunya, Ai Suryani (18), Arju termasuk murid yang teladan.Bayangkan saja, IQ-nya jauh lebih tinggi daripada kawan-kawan sebayanya. Tak hanya itu, Arju pandai membaca Al-Quran serta ibadahnya terbilang getol.

“Pagi-pagi bangun kadang jam empat, bangunin anak santri semua. Pintunya diketuk-ketuk satu-satu, kirain teh siapa gitu ya, ternyata dia neng.” Ujarnya saat dijumpai usai mengajar (19/11).

Walaupun Arju dinilai tidak konsisten dalam melakukan hal ini, namun Arju anak yang sangat rajin. Berkat kerajinannya itu, ia sudah mencapai Iqra empat dan hafal berbagai doa sehari-hari.

Hal ini juga disepakati Ustad Supiyandi (24) yang menjadi salah satu saksi hidup Arju di pesantren.Menurutnya, Arju salah satu santrinya yang teladan.Arju sangat jarang meninggalkan shalat dan mengaji. Bocah mungil ini juga terbilang cepat tanggap dalam pelajaran membaca apalagi menghitung.

 

KEHIDUPAN SEHARI-HARI ARJU

Waktu subuh tiba, ia bergegas bangun untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Tak lupa juga, satu-satu pintu kamar santri pun ia ketuk-ketuk untuk mengajak para santri melaksanakan shalat subuh berjamaah. Usai shalat, ia bukannya tidur kembali, justru ia kembali melakukan ibadah mengaji dengan gurunya. Beda halnya dengan anak-anak kecil pada umumnya di kota yang masih terlelap dalam tidurnya. Jangankan anak kecil, orang dewasa pun juga masih sering meninggalkan kewajiban yang satu itu karena lelap dalam tidur.

Waktu menunjukkan pkl. 07.00 WIB, saatnya Arju bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Mulai dari mandi, berpakaian, dan sarapan pagi ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kaki mungil beralaskan sepatu hitamnya itu melangkah melewati lorong-lorong kecil menuju bangunan sekolahnya yang sederhana.Ba lutan cat warna-warni dengan beragam gambar menjadi saksi bisu ketika beberapa tahun nanti Arju menggapai cita-citanya menjadi polisi seperti ayahnya. “Nanti gede aku pengen jadi polisi kayak Ayah, atau enggak jadi dokter bisa bantuin orang-orang sakit.” Ujarnya polos ketika ditanyakan seputar impiannya.

Arju menimba ilmu di sekolahnya mulai dari pkl.08.00 hingga 11.00 WIB. Di sekolahnya itu, ia diajarkan berhitung, membaca, menghafalkan doa-doa, hingga bahasa Inggris dan Arab. Arju duduk dengan rapi di bangku bewarna merah dengan tangan yang terlipat.Tak banyak tingkah, penurut, dan sopan santun itulah gambaran bocah kecil yang tangguh ini.Tangan mungilnya mulai mencoret pola berangka enam dan tujuh. Walaupun belum mahir, Arju menuruti perintah gurunya. Tidak halnya dengan kawan-kawannya yang selalu berlari kesana kemari. Karena kepatuhannya itu, akhirnya dialah murid pertama yang selesai dan meninggalkan ruangan sambil menggendong ransel hijaunya.

Jam sekolah pun telah usai, waktunya Arju pulang ke pesantren. Saat pulang ia bukannya langsung bermain kembali dengan kawan-kawannya, melainkan ia bergegas ganti baju dan mencari sandal jepitnya. Ketika keluar pesantren, terlihat uang seribu rupiah digenggamnya, entah untuk apa.

Awalnya memang dia malu-malu, namun pendekatan terus kami lakukan. Akhirnya ia pun sedikit demi sedikit mengajak kami bercanda bersama kawannya bernama Jeni. Jeni salah satu kawan dekatnya yang juga masih kecil, kira-kira setahun di bawah Arju. Ketika ingin bermain, Jeni-lah yang menemani hari-hari Arju.

Adzan dhuhur berkumandang jelas di telinga kami, waktunya Arju untuk melakukan shalat bersama warga sekitar. Ia langsung bergegas menuju masjid, berwudhu, mengucapkan niat dan bersujud kepada Maha Pencipta.

Uang yang tadi ia genggam, usai shalat ia gunakan untuk membeli sebatang es krim cokelat. Es krim itu terus ia nikmati hingga bongkahan terakhir. Di setiap kenikmatannya itu, terselip senyum polos tanpa ada rasa beban. Tidak terlihat ia sedang memikirkan ke mana orang tuanya pergi ketika ia meminta sesuap nasi. Tidak meraung-raung ketika meminta uang jajan. Tidak menangis ketika orang tuanya tidak berada di sisinya.

Arju yang tengah sibuk bermain games di telpon genggam kami, karena sudah merasa bosan, akhirnya kami mengajaknya berfoto bersama kawan-kawannya. Karena lokasi tempat ia hidup ramai dengan anak sekolah tingkat dasar dan menengah pertama, suasana pun pecah. Saat itu atmosfer canda tawa yang terlontar dari ekspresi wajah mungil tak berdosa ini makin terasa sekali. Wajahnya yang oval dengan mata bulat serta giginya yang ompong itu membentuk suatu tawa lepas seakan-akan ia tidak sendiri hidup di dunia. Bahkan keceriannya ini juga ia luapkan di depan kamera saat berfoto ataupun melakukan dialog sendiri sambil mengucapkan “hai, halo” dengan tangannya yang ia lambai-lambaikan.

Waktu makin siang, saatnya kami kembali pulang meninggalkan bocah mungil ini.Entah kapan lagi dapat bertemu dengannya.Mungkin saja beberapa tahun ke depan kami mendengar kabar bahwa dirinya menjadi seorang polisi seperti Ayahnya atau bahkan menajdi dokter hebat seperti dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F. Saat kami pamit dengannya, tiba-tiba saja wajahnya yang tadi penuh dengan senyuman, kini dibaluti rasa sedih seolah-olah tidak ingin berpisah dengan kami. Lambaian tangan kami pun tidak ia hiraukan, langsung ia malingkan wajahnya kepada kami.

Kawan-kawan yang tadinya bersenda gurau dengannya, bersorak-sorak, “Arju ceurik yeuh, ceurik!”, yang artinya Arju menangis.Rasa tak tega timbul dalam jiwa kami terhadap nasib bocah mungil itu.Terlintas di pikiran kami berniat memberikannya berbagai makanan ringan untuk disantapnya.Kami kembali bertemu dengannya dan kembali pamit.Langkah kami dengannya semakin jauh dan terlontar di mulutnya, “Teh nanti balik lagi yah ke sini, dadah.”Teriaknya sambil melambaikan tangannya.Kami pun turut membalas lambaian itu.Tubuhnya yang mungil sudah tidak terlihat lagi di pandangan kami dan entah kapan kami bisa melihatnya lagi.

Kehidupannya yang pahit dan sederhana itu memberikan motivasi kepada anak-anak bangsa zaman kini.Zaman kini yang dipengaruhi teknologi canggih dan pengaruh budaya luar, membuat anak-anak kecil seusia Arju tidak memandang betapa susahnya untuk hidup.Karena mereka terbiasa disuapi oleh orang tuanya dengan berbagai fasilitas canggih seperti gadget, sekolah bertaraf Internasional, bahkan perkembangan fashion sudah mereka santap.Perbandingan kata “mandiri” pun sangat jauh antara Arju dan anak-anak seusianya.Jika di sekolah-sekolah selalu ada Ibu yang mengawasi anak-anaknya hingga pulang ke rumah, namun ini tidak berlaku bagi kehidupan Arju.Dan tidak ada yang tahu kapan Arju dapat menikmati hidupnya setiap hari dengan kehadiran orang tua.(Nelly dan tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>