buy levitra online

ARTIKEL MAHASISWA BAKRIE | Edisi I

Halo mahasiswa Universitas Bakrie, tahukah kalian apa itu AKAR? AKAR adalah akronim dari “Artikel Anak Bakrie”, yang merupakan salah satu wujud fungsi dari Departemen Pendidikan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bakrie untuk menampung dan menyalurkan bakat-bakat mahasiswa/i Universitas Bakrie dalam karya tulis.

Tahun ini BEM-UB meluncurkan salah satu terobosan baru yang bertujuan untuk melatih, mendidik serta sebagai penyalur aspirasi mahasiswa Universitas Bakrie melalui penalaran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan wawasan mahasiswa Universitas Bakrie untuk aware terhadap isu-isu yang berkembang dalam lingkup kampus, nasional, serta internasional. Melalui AKAR, tentu kita semua dapat menuangkan pemikiran baik berupa ide, kritik, saran, dan atau pun aspirasi yang membangun.

Penerbitan AKAR edisi perdana ini merupakan hasil pemikiran dari peserta Awareness Essay Competition yang bertema Kontribusi Mahasiswa Untuk Masa Depan Indonesia.

Selayaknya manusia biasa, tentunya kami memiliki banyak kekurangan. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca terutama mahasiswa/i Universitas Bakrie, agar kesalahan yang terdapat pada penerbitan AKAR 2015 ini tidak terulang di waktu mendatang. Selamat membaca.

Flashback on Writing Workshop 2014

Sebenarnya, menulis merupakan hal yang mudah. Namun, masih banyak orang mengatakan bahwa menulis itu sulit. Persoalan yang dihadapi oleh seseorang yang menganggap bahwa menulis itu sulit disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :

1. Kalah sebelum berperang. Tidak percaya diri untuk menulis dan malu jika tulisannya dibaca oleh orang lain.
2. Tidak punya ide. Sebenarnya ada keinginan untuk menulis, tapi tidak tahu apa yang mau ditulis.
3. Stuck. Sudah percaya diri untuk menulis, tetapi pada saat akan menulis tidak tahu bahan apa yang mau ditulis. Berikut ini beberapa tips dalam menulis yang diberikan oleh Bapak Johannes Heru Margianto selaku pembicara Writing Workshop 2015:

1. Majulah sebelum berperang. Hilangkan rasa malu, tanamkan rasa percaya diri yang kuat dalam hati. Yakinlah bahwa hal tersebut nantinya akan memberikan manfaat bagi kita.
2. Tulislah apapun tentang kehidupan Anda, maka hal ini akan membantu Anda menemukan ide yang akan anda tulis. Di mana pun dan kapan pun ide itu muncul, tulislah ide tersebut. Percayalah, suatu saat ide tersebut akan berguna.
3. Untuk mengatasi stuck, maka tulislah semua yang ada di kepala Anda. Dalam memulai menulis, lupakan dulu EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Jangan pernah berhenti menulis karena typo. Jangan pedulikan kalimat tersebut panjang atau pendek. Intinya jadilah diri sendiri dalam gaya bahasa yang kita miliki. Writing is Writing, karena menulis merupakan ekspresi diri. Tulislah semua yang kita sukai dan kita kuasai karena menulis adalah bekerja untuk menjadi bagian dari keabadian.

—————————————————————————————————————–
Analisis Perilaku Pemilih Sumatera Barat terhadap Perolehan Suara Prabowo-Hatta dalam Pemilihan Presiden 2014

Wahyu Kurniawan M, Ilmu Politik Universitas Bakrie 2011
1st Winner Awareness Essay Competition 2014

Pemilihan Presiden (Pilpres) di Indonesia pada tahun 2014 dapat dikatakan berbeda dengan Pemilihan Presiden langsung dalam beberapa tahun belakangan ini. Perbedaan yang mencolok sewaktu pemilihan Presiden tahun 2014 yaitu kandidat yang bersaing dalam memperebutkan kursi RI 1 hanya terdapat 2 pasang calon yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Berdasarkan hasil perhitungan resmi KPU (Komisi Pemilihan Umum) RI Propinsi Sumatera Barat dan Propinsi Sulawesi Barat menjadi propinsi dengan tingkat kemenangan mutlak tertinggi masing-masing kandidat dengan persentase suara sebanyak 76,92%.

Jika diamati dari partai politik yang mendukung Jokowi-JK yaitu PDIP, PKB, Nasdem, dan Hanura tentu massa pendukung partai tersebut tidak terlalu dominan di Sumatera Barat. PDIP dan PKB menjadi partai yang tidak terlalu populer bagi masyarakat Sumatera Barat karena PDIP diangkap sebagai partai nasionalis-sekuler dan anggota partainya yang didominasi dari kalangan non-muslim sehingga membentuk persepsi masyarakat Minang tentang PDIP sebagai partai yang kurang dilirik oleh pemilih di Sumatera Barat. Kemudian PKB yang merupakan partai bagi warga NU yang juga bukan merupakan basis massa pendukung partai ini di Sumatera Barat karena penduduk Sumatera Barat mayoritas Muhammadiyah sehingga PKB tidak mampu menjadi partai yang kuat di Sumatera Barat. Kemudian Hanura dan Nasdem merupakan partai kecil di Sumatera Barat sehingga tidak mampu mendorong perolehan suara Jokowi-JK di Sumbar. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pendekatan perilaku pemilih baik internal maupun eksternal masih sangat dominan bagi pemilih di Sumatera Barat, sehingga hal tersebut dapat menjelaskan pola perilaku pemilih di wilayah tersebut.

Berdasarkan analisis di atas dapat disimpulkan bahwa pola perilaku dan budaya politik pemilih di Sumatera Barat masih dapat dikatakan tradisional dan konservatif. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan pendekatan aspek budaya dan agama yang dijadikan sebagai faktor dominan dalam mempriferensi setiap pilihan politik masyarakat Sumatera Barat. Sehingga dapat dilihat secara jelas bahwa budaya politik masyarakat Sumbar masih cenderung tradisional dan kaku dalam melihat dinamika sosial-politik.

—————————————————————————————————————–
Analisa Peran Pemerintah Indonesia Dalam Mengatasi Kasus Human Trafficking Periode 2014-2019

Annisa Khasya Fadila, Ilmu Politik Universitas Bakrie 2012
2nd Winner Awareness Essay Competition 2014

Dalam kasus human trafficking yang terjadi di Indonesia, biasanya pelaku menjerat para korban dengan berbagai macam modus yang salah satunya adalah seperti memberikan tawaran pekerjaan dengan persyaratan yang mudah dan gaji yang tinggi. Namun, pada akhirnya setelah target bisa masuk kedalam bujukan pelaku, pada akhirnya mereka justru mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan seperti a) Buruh migran tanpa gaji, b ) Pekerja Seks Komersial, d) Industri pornografi, e) Pengedar narkoba, f) Kawin kontrak, g) Pengemis Maka dari itu, karena pekerjaan yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan dan bahkan tidak mendapatkan gaji yang seharusnya, maka hak asasi mereka telah dilanggar karena hal ini mirip dengan perbudakan. Selain itu, banyak diantara mereka yang juga mendapatkan perlakuan sewenang–wenang seperti penyiksaan, penindasan, bahkan hingga pembunuhan karena mencoba kabur.

Maka dari itu, beberapa cara yang menurut penulis efektif dan harus dilakukan pemerintah dalam periode 2014 – 2019 adalah sebagai berikut.

1. Memberikan Sosialisasi dan Informasi Tentang Bahaya Human trafficking Kepada Masyarakat.

2. Penegakan Aturan Hukum.

3. Meningkatkan Pertahanan dan Keamanan Khususnya di Wilayah Perbatasan.

4. Memperluas Jumlah Lapangan Pekerjaan Bagi Masyarakat.

Jika keempat cara tersebut bisa dilakukan diimplementasikan dengan baik, maka penuntasan kasus human trafficking di tahun–tahun sebelumnya yang masih dalam “ on progress “ bisa segera diselesaikan dengan baik sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, serta bisa mencegah peluang terjadinya kasus tersebut dalam periode waktu lima tahun ke depan. Tidak hanya itu, jika hal ini bisa dilakukan dengan sungguh – sungguh oleh pemerintah, maka citra Indonesia di mata internasional juga akan menjadi lebih baik sebab mampu mengatasi salah satu kasus kriminal terbesar yang selama bertahun–tahun selalu menjadi perhatian dunia internasional. Tiga hal itulah yang kemudian menjadi landasan kuat kenapa menurut penulis keempat upaya tersebut wajib dan harus diimplementasikan oleh pemerintah untuk mengatasi kasus human trafficking khususnya bagi pemerintahan yang baru, periode 2014 – 2019.

—————————————————————————————————————–
Potensi Pangan Tradisional di Kancah Internasional

Wahyu Sri Lestari, Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakrie 2014
3rd Winner Awareness Essay Competition 2014

Menjamurnya pangan pabrik menyebabkan semakin langkanya pangan tradisional. Hal ini menjadi indikasi betapa globalisasi pangan telah ada di depan mata kita. Globalisasi pangan pabrik telah merambah hingga ke kawasan pedesaan yang notabene merupakan kawasan sentral penghasil pangan. Sungguh ironis jika petani sebagai produsen pangan menjadi pelanggan setia pangan pabrik. Pangan tradisional adalah makanan yang berasal dari suatu daerah tertentu yang memberikan ciri khas pada suatu daerah. Produk ini biasanya memiliki citarasa spesifik yang disukai oleh masyarakat setempat, dan dibuat dengan menggunakan resep warisan dari generasi ke generasi dengan menggunakan bahan dari sumber lokal.

Kegiatan festival pangan dapat dijadikan media untuk pengenalan pangan tradisional. Kegiatan ini dapat mengenalkan keanekaragaman jenis pangan tradisional. Globalisasi mengubah pola pikir masyarakat cenderung mengonsumsi pangan pabrik. Maka dari adanya kegiatan ini diharapkan dapat mengubah mindset agar masyarakat Indonesia tidak malu mengonsumsi pangan tradisional. Apabila orang Indonesia saja malu mengonsumsi pangan tradisional, bagaimana dengan orang luar Indonesia?

Kota kendari merupakan salah satu daerah yang menggelar festival pangan lokal dengan ciri khas pangan tradisional. Adapun tema yang digunakan yaitu diadakannya festival pangan nonberas. Pangan tradisional yang ada di Kendari seperti sinonggi dengan bahan baku sagu, kambose dengan bahan baku jagung, kasoami dan kabuto berbahan baku umbi-umbian. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan pangan tradisional pada masyarakat Indonesia saja, bahkan juga dapat memperkenalkan kepada masyarakat luar negeri. Adapun cara lain dalam memperkenalkan makanan tradisional daerahnya yaitu seperti di Yogyakarta yang mempunyai suatu sentral makanan tradisional yang terpusat pada suatu lokasi yaitu Wijilan.

Dengan adanya kegiatan pengenalan pangan tradisional seperti diadakannya upacara adat, festival pangan, restoran dengan menu pangan tradisional, sentral pangan tradisional, serta toko oleh-oleh khas maka telah memberikan sedikit gambaran bahwa masyarakat peduli dengan adanya pangan tradisional. Pangan tradisional bukan hanya sekedar pangan udik, akan tetapi pangan tradisional adalah simbol budaya yang tidak akan pernah habis dan membawa nilai industri strategis bagi suatu daerah serta mampu bersaing dengan pangan babrik di kancah internasional.

—————————————————————————————————————–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>