buy levitra online

ARTIKEL MAHASISWA BAKRIE | Edisi II

Halo mahasiswa Universitas Bakrie, tahukah kalian apa itu AKAR? AKAR adalah akronim dari “Artikel Anak Bakrie”, yang merupakan salah satu wujud fungsi dari Departemen Pendidikan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bakrie untuk menampung dan menyalurkan bakat-bakat mahasiswa/i Universitas Bakrie dalam karya tulis.

Tahun ini BEM-UB meluncurkan salah satu terobosan baru yang bertujuan untuk melatih, mendidik serta sebagai penyalur aspirasi mahasiswa Universitas Bakrie melalui penalaran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan wawasan mahasiswa Universitas Bakrie untuk aware terhadap isu-isu yang berkembang dalam lingkup kampus, nasional, serta internasional. Melalui AKAR, tentu kita semua dapat menuangkan pemikiran baik berupa ide, kritik, saran, dan atau pun aspirasi yang membangun.

Penerbitan AKAR edisi perdana ini merupakan hasil pemikiran dari peserta Awareness Essay Competition yang bertema Kontribusi Mahasiswa Untuk Masa Depan Indonesia.

Selayaknya manusia biasa, tentunya kami memiliki banyak kekurangan. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca terutama mahasiswa/i Universitas Bakrie, agar kesalahan yang terdapat pada penerbitan AKAR 2015 ini tidak terulang di waktu mendatang. Selamat menbaca.

—————————————————————————————————————–

Sudahkah Kita “Cerdas”? Pengelolaan IQ, EQ, dan SQ dalam Upaya Meningkatkan Daya Saing Indonesia

Nyoman Wati, Manajemen 2011

Apakah definisi dari kata “CERDAS” itu?

Berdasarkan penjelasan yang dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerdas didefinisikan sebagai kesempurnaan akal budi (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya); tajam pikiran; sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat).

Dari definisi tersebut, dapat kita tarik tiga kata kunci, yaitu: akal budi, pikiran, dan pemahaman. Dalam hal ini kita dapat mengaitkan ketiganya dengan tiga jenis kecerdasan yang kita kenal selama ini, yaitu: Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ) yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan daya saing yang sustainable bagi Indonesia.

IQ adalah adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan yang dikembangkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis, dan Lewis Tenman dari Stanford University sehingga dikenal sebagai tes Stanford-Binet. Inti kecerdasan ini adalah aktivitas otak. Sebagai contoh, Albert Einstein, yang kita kenal sebagai manusia terpintar di dunia hingga saat ini, diklaim baru menggunakan kapasitas otaknya sebesar 15%. Dengan demikian kita bisa berasumsi bahwa manusia rata-rata masih menggunakan kapasitas otaknya jauh dari ukuran optimum.

EQ adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri sepenuhnya dan mengaitkannya dengan orang lain. Ciri-cirinya meliputi: percaya diri, kendali diri, kemampuan beradaptasi, berinisiatif, optimis, empati, berpengaruh, mampu mengembangkan orang lain, pembawa perubahan, mampu bekerja sama atau berkolaborasi.

Berbeda dari dua kecerdasan diatas yang lebih bersifat horizontal, SQ adalah kecerdasan yang bersifat vertikal. Karakteristik orang-orang yang memiliki SQ tinggi yaitu: mempunyai visi dan prinsip yang kuat, mampu menemukan kesatuan dalam keragaman, mampu memaknai setiap sisi kehidupan, serta mampu bertahan bahkan mengelola kesulitan dan/atau penderitaan dalam hidupnya.

Kecerdasan juga dapat dicirikan dari kemampuan memprediksi masa depan dalam hal pencegahan. Selama ini kita masih dicirikan dengan sifat reaktif bukan preventif, yang telah terbukti tidak dapat memberikan hasil yang optimal. Hal ini bisa ditinjau dari berbagai keterbatasan yang kita miliki, misalnya dari sisi waktu. Sebagai contoh yang paling dekat dengan keseharian mahasiswa misalnya dalam mengerjakan tugas atau persiapan menghadapi ujian. Masih banyak diantara kita, termasuk penulis, yang masih menggunakan metode yang dikenal dengan SKS (sistem kebut semalam) yang tidak jarang memberikan hasil yang tidak sesuai dengan target atau keinginan. Tentu saja hal itu terjadi karena kita dihadapkan dengan keterbatasan waktu yang tidak bisa ditawar-tawar kecuali disikapi dengan perubahan perilaku yaitu mempersiapkan diri jauh lebih awal agar waktu yang bisa dimanfaatkan menjadi lebih lama. Salah satu hal yang bisa menyebabkan keengganan untuk mempersiapkan lebih awal adalah karena tidak atau belum diketahuinya alasan (aspek “WHY”) kita harus melakukan hal itu. Selama ini masih banyak yang melakukan sesuatu dengan terpaksa, karena diharuskan guru atau dosen, karena ingin mendapatkan nilai yang bagus, tanpa mengetahui atau memiliki motor penggerak sebagai pemicu utama kita melakukan sesuatu hal tersebut (dalam hal ini adalah kegiatan-kegiatan positif yang memberikan manfaat).

Janganlah selalu berpikir negatif terhadap Bangsa kita tercinta ini, karena sesuai dengan filosofi krisis yang diperoleh dari kuliah Manajemen Krisis, bahwa kata “krisis” dapat diartikan sebagai “bencana” tetapi juga sekaligus merupakan “peluang”. Seperti mengutip perkataan dari Aulia Halimatussadiah, pendiri nulisbuku.com yang telah berhasil membawa harum nama bangsa hingga ke berbagai negara di dunia melalui menulis, bahwa kita harus bersyukur bisa hidup di Indonesia dengan berbagai macam permasalahannya karena hal itu memberikan banyak peluang bagi kita, utamanya pemuda-pemudi Indonesia, untuk memecahkan masalah-masalah tersebut yang ternyata juga bisa mendatangkan keuntungan ekonomi karena bisnis yang berhasil umumnya adalah bisnis yang didasari oleh keinginan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, dan janganlah kita selalu memuji negara-negara lain yang sudah maju karena mereka juga menghadapi masalah dengan “kemajuan” mereka itu dimana semua isu telah mereka atasi sehingga tidak terlalu banyak lagi yang bisa dikembangkan di negaranya sehingga mereka mulai menciptakan hal yang aneh-aneh atau merantau ke negara lain yang masih memiliki masalah yang bisa dipecahkan.

Perubahan harus mulai direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari hal paling sederhana yang paling dekat dengan keseharian kita. Contohnya, sebagai mahasiswa marilah kita membentuk disiplin diri, dengan memanfaatkan ketiga jenis kecerdasan yang telah dibahas sebelumnya, misalnya dengan rajin bangun pagi, mengerjakan tugas kuliah dengan baik, mendengarkan orang lain saat berbicara misalnya saat dosen memberi kuliah di kelas atau diskusi dengan teman maupun masyarakat, menaati peraturan kampus, datang tepat waktu dalam setiap pertemuan, tidak menyontek, rajin belajar, dan masih banyak lainnya. Pembaca juga bebas menambahkan daftar hal-hal positif yang dapat dilakukan mulai dari hari ini. Pada intinya, kita harus berusaha untuk berhenti melanggar peraturan yang ada karena melanggar aturan yang sudah jelas-jelas kita ketahui adalah tindakan yang benar-benar tidak cerdas.

Dengan meningkatkan percaya diri, didukung kecerdasan yang telah diasah dengan baik (IQ, EQ, SQ), dan kedisiplinan maka tidak perlu diragukan lagi bahwa pemuda-pemudi penerus Bangsa Indonesia tidak akan kalah bersaing di dunia internasional. Pengujian hipotesis ini dapat dilakukan ketika Masyarakat Ekonomi Asean 2015 dilaksanakan.

Jadi, pertanyaan “sudahkah kita cerdas?” hanya dapat dijawab oleh individu masing-masing, khususnya para pembaca yang cerdas.

So, let’s be a smart person with a SMART goal(s).

Maju Indonesiaku..!

—————————————————————————————————————–

Mahasiswa Sebagai Agen Penting dalam Menghadapi Asean Economic Community 2015

Dara Azizah Putri Septiani, Manajemen 2013

Asean Economic Community (AEC) adalah momentum penting bagi negara-negara anggota ASEAN untuk memaksimalkan keberadaannya sebagai masyarakat ASEAN itu tersendiri. Asean Economic Community (AEC) adalah suatu integritas ekonomi perserikatan negara-negara di Asia tenggara yang bertujuan untuk menciptakan kekuatan ekonomi regional yang mampu menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar bebas produksi tunggal. Dengan terciptanya AEC, pembebeasan hambatan tarif maupun non-tarif dalam elemen-elemen AEC yaitu aliran bebas barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian negara-negara anggotanya.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara (40% penduduk Asia Tenggara adalah penduduk Indonesia) akan membuat Indonesia dibanjiri produk-produk dari negara-negara anggota ASEAN jika daya saing Indonesia kalah dengan daya saing negara-negara anggota ASEAN lainnya. Berdasarkan data Global Competitiveness Indeks 2014/2015 yang dilansir World economic Forum, Indonesia menempati peringkat 34 dari 144 negara dengan posisi yang masih dibawah peringkat tiga negara ASEAN lainnya yaitu Singapura (2), Malaysia (20), dan Thailand (31). Sedangkan berdasarkan data Asean Productivity Organization (APO) dari 1000 tenaga kerja Indonesia, hanya 4,3% yang terampil dengan tenaga kerja didominasi lulusan Sekolah Dasar yaitu 80% sedangkan lulusan Perguruan Tinggi yang hanya 7%.

Untuk membantu meningkatkan persiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi AEC 2015, hal pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kapabilitas diri sendiri. Terkait dengan peranan mahasiswa sebagi iron stock, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus sadar bahwa mereka adalah ujung tombak dari kemajuan bangsa Indonesia. Mahasiswa harus menignkatkan kapabilitasnya tidak hanya dengan pengembangan hardskill (berupa akademis) di kampus, namun juga pengembangan softskill (dapat dilakukan dengan ikut dalam organisasi, atau pun menghadiri acara-acara seperti seminar dan talkshow).

Hal kedua yang dapat dilakukan mahasiswa adalah melakukan pencerdasan masyarakat. Konteks pencerdasan masyarakat dapat dilakukan dengan cara melakukan sosialisasi AEC kepada masyarakat sekitar, ataupun dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar seperti pelatihan bahasa inggris. Dengan begitu, mahasiswa telah menjalankan fungsinya sebagai social control.Selanjutnya, hal yang dapat dilakukan mahasiswa adalah dengan menyumbang karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu yang dapat dilakukan mahasiswa adalah dengan menciptakan teknologi yang dapat bermanfaat bagi UMKM di Indonesia. Dengan jumlah 42 juta UMKM (Data BPS), pengusaha domestik memiliki peluang besar untuk berjaya dalam AEC 2015. Teknologi merupakan hal yang harus ditunjang untuk meningkatkan produktifitas industri.

Selain menyumbang karya teknologi, melakukan penelitian juga dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk membantu peningkatan persiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi AEC 2015. Mahasiswa dengan tingkata pendidikan paling tinggi sudah seharusnya berpikir kritis terhadap hal-hal yang terjadi di masyarakat. Dengan melakukan penelitian, mahasiswa diharapkan dapat memberikan solusi kepada pemerintah atas masalah-masalah yang terjadi di masyarakat.

Yang terakhir adalah mempelopori gerakan cintai produk dalam negri. Dengan membantu mempelopori gerakan cintai produk dalam negri, mahasiswa turut membantu pemberdayaan pengusaha domestik untuk menguatkan perekonomian nasional. Jika masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi produk dalam negri, maka diharapkan produk dalam negri dapat menguasai pasar AEC 2015 nanti.

—————————————————————————————————————–

Peninjauan Aspek Lingkungan Melalui Perbandingan Tata Kota Makassar dan Kota Jakarta Serta Prediksi Dampak Lingkungan pada Masa Mendatang

Hesli Oktavia, Teknik Lingkungan 2012

Perbandingan sistem pola tata kota dimulai dari peninjauan letak kawasan industri. Jika kita melihat peta RTRW Kota Jakarta, pada saat angin bertiup dari wilayah utara ke selatan akan membawa partikulat-partikulat. Partikulat-partikulat tersebut akan tertahan di kota karena adanya gedung-gedung tinggi yang menghalangi arah distribusi partikulat tersebut. Berbeda dengan Kota Makassar, letak penempatan kawasan industri agak jauh dari perairan, justru berada di daerah pertengahan wilayah. Latar belakang peletakan kawasan ini kemungkinan dipengaruhi oleh paradigma yang mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu kawasan industri akan berubah menjadi kawasan komersial. Jika ditinjau dari segi geografisnya, akses jalan menuju kawasan Bandar udara dan pelabuhan sangat strategis.

Dampak lingkungan yang ditimbulkan adalah jika masyarakat tetap bertahan di sekitar daerah perindustrian tersebut, kemungkinan besar akan tercemar oleh polusi pabrik. Permasalahan lain yang timbul di kedua kota ini adalah permasalahan sampah. Di kota Jakarta volume timbulan sampah per hari adalah 6500 ton, terdiri dari 53% sampah rumah tangga dan 47% sampah industri. Menurut beberapa sumber diprediksi dalam 5 tahun ke depan akan menjadi 8000 ton (Kompas, 28 Februari 2013). Berdasarkan hasil analisis Nurmaida (Mahasiswa Universitas Hasanuddin) menyatakan bahwa proyeksi volume timbulan sampah Kota Makassar tahun 2013 dan 2018 akan meningkat. Proyeksi timbulan sampah Kota Makassar pada tahun 2013 akan mencapai 4.184.781 liter/hari dan untuk tahun 2018 sebesar 4.607.497 liter/hari (Nurmaida 2010). Sampah telah mengganggu keberadaan air dan ekosistem yang ada.

Belajar dari permasalahan yang telah terjadi di Kota Jakarta membuat kita terdorong untuk melakukan tindakan awareness terhadap kota Makassar. Hal unik yang dimiliki oleh masyarakat Kota Makassar adalah adanya aturan adat yang bersifat mengikat, dapat dijadikan suatu aspek dalam pemulihan permasalahan lingkungan. Tindakan peduli lingkungan dapat kita lakukan dengan mematuhi aturan adat yang berlaku. Hal tersebut dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:

1. Pertahankan adat yang mengajarkan kita untuk menanam pohon pisang disetiap rumah demi kebutuhan penggunaan daun pisang sebagai pengganti piring. Hal tersebut dapat meminimalisasi penggunaan plastik dan styrofoam .
2. Tidak mencemari sungai yang ada. Adat Sulawesi Selatan mengajarkan bahwa masyarakat dilarang membuang sampah dan bahan berbahaya ke sungai (contoh: dilarang mencuci kelambu dan membuang sampah berbahaya ke sungai dengan paradigma bahwa buaya akan marah). Pendapat tersebut kemungkinan benar, namun hal yang dapat dipelajari adalah paradigma sederhana tersebut dapat membentuk pola pikir masyarakat untuk lebih berkontribusi terhadap lingkungan.
3. Tingkatkan kegiatan pengumpulan sisa makanan, sayuran, dan dedaunan sebagai bahan utama pakan ternak. Hal tersebut secara tidak langsung menjadi suatu doktrin terhadap masyarakat dalam reuse dan pemilahan sampah.
4. Tingkatkan semangat gotong royong dalam tindakan pembersihan parit, selokan, serta kanal yang ada.
5. Mematuhi aturan pemerintah sesuai dengan RTRW yang telah dibuat, sehingga tatanan kota dapat dikendalikan dan dapat teratur menurut pola RTRW.
6. Menggunakan keranjang dalam berbelanja adalah tindakan dalam penghematan penggunaan kantong plastik.
7. Pemerintah seharusnya memberi dukungan berupa penghargaan kepada masyarakat yang telah berkontribusi dalam pemeliharaan lingkungan.

Semua tindakan tersebut baik yang secara wajib dilakukan (tuntutan adat) maupun tindakan yang terbentuk karena adanya rasa peduli merupakan suatu hal yang luar biasa dapat membantu Kota Makassar untuk tumbuh sebagai kota metropolitan yang bebas dari permasalahan sampah. Sekecil apapun tindakan peduli kita terhadap lingkungan akan menjadi bemanfaat karena alam akan menghargai pemulihan yang kita lakukan.

Dengan mengetahui gambaran tata Kota Makassar dan Tata Kota Jakarta serta permasalahan lingkungan yang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Kota Jakarta merupakan gambaran kota Makassar dimasa mendatang. Hal tersebut didukung dari peninjauan intensitas banjir Kota Makassar yang semakin meningkat karena adanya penyumbatan aliran kanal oleh sampah.
2. Jumlah penduduk Kota Jakarta sebanyak 9.607.787 dapat memproduksi sampah sebesar 6.500 ton/ hari sedangkan jumlah penduduk Kota Makassar sebanyak 1.223.540 dapat memproduksi sampah sebesar 490.695 L/hari.
3. Pertambahan volume sampah di Kota Jakarta mengakibatkan pengaruh terhadap kanal sehingga masyarakat Kota Jakarta tidak dapat mengandalkan air permukaan sebagai sumber air bersih sedangkan Kota Makassar masih dapat menggunakan air permukaan sebagai sumber air bersih.
4. Adat sebagai salah satu sumber kearifan lokal dapat digunakan sebagai perwujudan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>