buy levitra online

Ridwan: Saya Harus Menang!

 

Ridwan, Atlet PON 2012 dari Universitas Bakrie

Ridwan, Atlet PON 2012 dari Universitas Bakrie

 

“Ini PON pertama saya, saya masih merasa belum wajar ikut PON,” ujarnya sambil tersenyum kecil menerawang.  Ridwan, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi 2012 Universitas Bakrie siang itu bercerita banyak kepada RITMA tentang pengalamannya di dunia olahraga atletik yang kini mengantarkannya menjadi salah satu dari 22 atlet atletik yang mewakili Jakarta di PON ke- XVIII di Riau.

Laki-laki berperawakan tinggi kurus ini mengaku bahwa dirinya tidak menekuni olahraga sejak kecil. “Dulu saya paling main bola. Kalo main bola biasanya saya jadi kiper,” tutur atlet kelahiran 1994 ini. Perkenalannya pada dunia atletik dimulai ketika Ia bersekolah di SMP 267 Jakarta Selatan saat mengikuti PORSENI cabang Atletik. Siapa sangka keikutsertaannya di PORSENI ini menjadi awal karirnya dalam menjajaki ajang-ajang olahraga yang berskala lebih besar.

“Mulai dari PORSENI itu, lalu saya diajak untuk ikut mewakili Jakarta Selatan di perlombaan atletik yang diselenggarakan oleh O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional)”. Dalam perlombaan itu, Ridwan mendapatkan juara 2 dalam cabang lompat tinggi dan juara 1 cabang tolak peluru. Semakin tertartik pada dunia olahraga, Ridwan pun berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya ke SMAN Ragunan, sekolah khusus olahragawan. Awalnya Ia mengaku tidak yakin bisa masuk ke sekolah impiannya tersebut, namun dengan bantuan dari pihak SMP 267 yang mempersilahkan atlet kebanggaannya ini untuk bebas memilih SMA manapun, akhirnya Ridwan pun berhasil masuk ke sekolah yang menempa bakat olahraganya itu.

Dengan tempaan di sekolah barunya ini, Ridwan semakin sering menjajal kemampuannya di beberapa ajang olahraga bertaraf nasional, seperti Jatim Open, kejuaraan antar PPLP (Pusat Pembinaan dan Latihan Pelajar), hingga POPNAS (Pekan Olahraga Pelajar Tingkat Nasional). Setelah semua ajang berskala nasional tersebut, Ridwan benar-benar mengembangkan karirnya dengan berpartisipasi di Singapore Open 2009. Dalam ajang yang diikuti oleh sekitar 10 negara ini, Ia berhasil menjadi juara 4 dalam cabang estafet. “Bener-bener ngga nyangka banget bisa ikut ajang Internasional kayak gitu. Tiba-tiba saya ditelepon pelatih saya yang menyuruh saya bikin passport untuk ikut ajang ini. Saya masih belum percaya. Saya nanya, bener ngga sih nih? Sampai saya dimarahin baru saya percaya,” ujarnya sambil tertawa.

Setelah mencicipi ketatnya persaingan di ajang nasional dan internasional, justru Ridwan baru mendapat kesempatan untuk ikut serta di ajang PORDA (Pekan Olahraga Daerah). “DI situ saya mulai timbul keyakinan bahwa saya harus membuktikan kemampuan saya. Saya ngga mau bikin malu nama SMAN Ragunan. Saya harus menang!”. Semangatnya pun membuahkan hasil medali perak di cabang estafet dan lari 200 meter.

Tidak salah memang jika Ridwan berusaha mati-matian untuk tidak membuat malu SMAN Ragunan, di tempat inilah Ia ditempa menjadi atlet yang lebih handal. Ia bercerita bahwa setiap pagi, selepas solat subuh hingga pukul setengah delapan, Ia dan para atlet yang bersekolah di sana harus melakukan latihan pagi sebelum memulai pelajaran akademis. Kemudian etelah belajar, latihan pun dilanjutkan pada sore hari.

Ketika ditanya alasannya memilih Universitas Bakrie, Ridwan menjawab bahwa Ia tergiur pada beasiswa atlet yang ditawarkan Universitas Bakrie pada dirinya. “Saya datang dari keluarga sederhana, pastinya senang kalau saya bisa meringankan beban orang tua untuk membiayai kuliah saya,” kata anak ketiga dari lima bersaudara ini. “Sebenarnya saya ditawari juga untuk masuk salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta, tapi saya tolak karena di sana isinya kebanyakan orang-orang yang sudah saya kenal. Saya mau ketemu orang-orang baru di sini supaya pikiran saya berkembang,” tambahnya lagi.

Prestasi-prestasi yang diukir Ridwan sebagai seorang atlet bukan tanpa hambatan. Banyak sudah pengorbanan dan kerja keras yang Ia hadapi. Salah satunya adalah ketika Ia mengalami kecelakaan pada bulan Juni lalu. “Saya sempat nangis saat itu. Nge-down juga karena PON tinggal beberapa bulan lagi. Butuh pemulihan lama untuk akhirnya bisa fit latihan lagi,” katanya. Saat ini Ridwan menjalani Pelatnas PON di asrama atlet sejak bulan Mei lalu. Antusiasme yang tinggi ditambah dukungan dari orang-orang terdekat membuatnya tidak kenal lelah untuk terus berlatih. Ia sadar bahwa usianya yang masih muda tidak bisa menjadi alasan untuk tidak berprestasi di PON Riau nanti. “Dukungan orang tua yang membuat saya terus semangat. Saya harus buktikan, kalau memang saya mampu berprestasi di usia muda, ya kenapa harus nunggu tua?” ucap Ridwan.

Saat ditanya apa kunci suksesnya selama ini, Ridwan mengatakan, “Saya tidak pernah mencoba memecahkan rekor yang dibuat orang lain. Saya hanya berusaha untuk terus menjadi lebih baik dan memecahkan rekor saya sendiri. Hingga pada akhirnya saya harus menang!” ujarnya menutup pembicaraan. Selamat bertanding, Ridwan! (zaldy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>