buy levitra online

Tag Archives: Delia Murwihatini

Pewirausaha Perlu Melakukan Riset dan Menguasai Teknis

 

Creativepreaneurship for Indonesia Brighter Future E-Youth 2012 (doc Silhouette)

Perkembangan kegiatan kewirausahaan di bidang kreatif tengah gencar-gencarnya berkembang beberapa tahun belakangan. Hal ini tentunya kemudian menciptakan persaingan yang tinggi sehingga perlu adanya kreativitas dari para pewirausaha agar tidak kalah bersaing.

Direktur Pengembangan Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Syamsul Lussa, dalam jumpa pers Entrepreneurial Youth, Sabtu (5/5), di ruang 1-2 Universitas Bakrie, Jakarta, menyatakan, bangsa ini memiliki kelemahan dalam daya juang. Ada budaya takut gagal pada masyarakat yang seharusnya dihilangkan agar terus tercipta inovasi dalam berwirausaha. “Melakukan sesuatu kemudian gagal, harus bangkit lagi dan terus mencoba,” ungkap Syamsul Lussa.

“Kita kurang sekali riset,” kata Syamsul Lussa. Berwirausaha itu baik, tetapi lebih baik lagi jika diawali dengan riset. Riset perlu diadakan guna mengetahui pangsa pasar serta menghindari terjadinya duplikasi. Syamsul memberi contoh, hanya karena beda seminggu dalam mempublikasikan disertasi, salah satunya dianggap melakukan duplikasi. Terdapat dua mahasiswa, satu dari Inggris dan satu dari Australia yang melakukan penelitian untuk disertasi yang topik dan datanya sama, tapi tidak saling mengetahui satu sama lain. Mahasiswa dari Inggris kemudian mempublikasikan disertasinya. Seminggu kemudian mahasiswa dari Australia mempublikasikan disertasinya. Namun, mahasiswa dari Australia kemudian dianggap melakukan duplikasi. Hal ini tidak perlu terjadi apabila diadakan riset terlebih dahulu.

Mengenai apa yang akan dilakukan pemerintah dalam hal kewirausahaan di bidang kreatif terutama perfilman, Syamsul Lussa mengatakan “Di perfilman kita sudah punya master plan yang mencakup semua aspek,” Aspek tersebut diantaranya aspek produksi, penetrasi pasar, pemasaran, distribusi, dan pembiayaan yang akan di urusi oleh Badan Perfilman Indonesia, sebuah Film Commission yang ditujukan untuk mempermudah industri perfilman. Nantinya BPI akan bersifat mandiri dan swasta, pemerintah hanya memberi dukungan.

Pada kesempatan yang sama, Analis Ekonomi Kreatif Rudy Suteja, mengatakan perlunya penguasaan teknis dalam berwirausaha. Dalam kunjungannya ke beberapa kota ia mendapati banyak pewirausaha yang merasa dagangannya tidak laku, juga sulit mendapat pinjaman dari bank. Menurut Rudy, hal ini terjadi karena kurangnya penguasaan teknis para pewirausaha. Kemudian perlu adanya keahlian dalam manajemen guna melakukan produksi dan memisahkan antara uang pribadi dan uang perusahaan. Setelah menguasai hal ini barulah bisa mulai menjalankan usaha.

Pendidikan dari orangtua untuk membangun pola pikir anak menjadi pewirausaha dirasa perlu oleh Rudy. Hal ini dikarenakan perkembangan kewirausahaan di Indonesia yang begitu pesat ternyata belum menciptakan wirausahawan yang cukup banyak, dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.

Masih di kesempatan yang sama, hadir pula pemilik Dowa dan The Sak Delia Murwihartini. Delia mengatakan bahwa potensi di Indonesia ini sangat banyak, baik dari sumber daya alam maupun kerajinannya yang punya nilai lebih dibandingkan dengan negara lain sehingga pemuda Indonesia punya kesempatan untuk berwirausaha dan mengembangkannya.

Dalam berwirausaha tentunya terdapat tantangan dari dunia luar yang menyurutkan semangat juang kita, maka tentang bagaimana cara menghadapinya, Delia mengatakan “Yang harus kita bangkitkan adalah diri kita sendiri, buktikan bahwa mimpi kita bener, buktikan bahwa apa yang kita lakukan adalah baik dan berguna. Itu nomor satu.”

Mengenai persoalan finansial dalam memulai wirausaha, Rudy Suteja dan Delia Murwihatini sepakat bahwa hal itu menjadi prioritas terakhir. Hal ini dikarenakan kendala finansial dapat diatasi dengan kemitraan dan bank pun mencari tempat untuk berinvestasi pada bisnis yang sudah matang konsep pelaksanaannya.(abi)